Dulu semasa mengikuti kuliah
Psikologi Perkembangan, dosen saya pernah bercerita bahwa untuk mendidik
seorang anak menjadi seorang pribadi yang utuh sungguh bukan pekerjaan yang
sederhana. Beliau waktu itu menggambarkan untuk mendidik seorang anak
membutuhkan ‘penduduk sebuah desa’, sebagaimana buku karangan Hillary Clinton
pada tahun 1996; ‘It Takes a Village: And Other Lessons Children Teach Us.’ Waktu itu,
saya merasa cukup dapat menangkap pesan yang disampaikan dosen saya tersebut;
namun sekarang, pada saat saya menjalani sendiri menjadi seorang ibu, saya bary sadar sepenuhnya bahwa
mendidik seorang anak-anak benar-benar bukan pekerjaan yang sederhana. Ini
adalah pekerjaan yang melibatkan begitu banyak aspek, it do takes a village
dan ini adalah hal yang bersifat holistik.
BAKAT VS LINGKUNGAN
Bagi saya, mendidik anak menjadi seorang pemimpin, berarti
mengupayakan segala cara yang mengoptimalkan bakat (aspek genetis) anak saya. Setiap
anak itu unik. Sejak masa konsepsi mereka sudah memiliki gen yang membawa
potensi masing-masing; potensi pertumbuhan (karakter fisik) dan juga potensi
perkembangan (karakter psikologis). Setiap anak, sejak dalam kandungan sudah
memiliki blue-print pertumbuhan dan perkembangan masing-masing; bisa
menjadi apa kelak pada saat mereka dewasa. ‘Bisa menjadi apa’ bukan ‘akan
menjadi apa’ bakat ini hanya bahan baku, sedangkan akan menjadi apa bahan
baku ini tergantung bagaimana lingkungan menempanya. Ibaratnya tepung terigu,
akan menjadi cake yang lezat atau teronggok begitu saja hingga berbau apek
itu tergantung pengolahannya (hanya perumpamaan). Seorang anak bisa saja
memiliki bakat untuk memiliki tinggi badan 170 cm, namun karena malnutrisi,
bisa jadi dia mentok di 150 cm. Sama halnya dengan seorang anak yang
memiliki potensi verbal di atas rata-rata, namun karena kurangnya stimulasi
menjadi biasa-biasa saja. Bagaimana, setuju kan dengan pendapat saya?
Lalu bagaimana usaha saya mengoptimalkan bakat yang dimiliki Ganesh, berikut
yang saya lakukan…
Pertumbuhan. Anak yang sehat dan tumbuh optimal sudah pasti harapan
setiap ibu, termasuk juga saya. Karena itu, sejak dinyatakan positif hamil,
sejak itu juga saya mulai memberikan perhatian ekstra pada asupan nutrisi. Googling-googling
dan mencari tahu apa yang baik dan buruk untuk perkembangan bayi dalam
kandungan. Dari hasil googling tersebut, mulailah saya mensortir makanan
apa saja yang masuk kategori ‘big no!’, sebaiknya dihindari dan baik
untuk dikonsumsi. Berikut adalah daftar contoh makanan yang masuk dalam
kategori saya tersebut:
Kategori Makanan/Zat Ibu Hamil Versi Saya
‘Makanan’ termasuk zat yang masuk ke tubuh lainnya
|
Nah, selanjutnya untuk memastikan kecukupan gizi untuk saya dan
bayi dalam kandungan, saya tidak pernah ketinggalan minum susu khusus ibu hamil
seperti Lactamil Ibu Hamil. Vitamin dan suplemen yang diberikan dokter
kandungan pun, rajin saya konsumsi, namun tentu saja setelah melalui screening
dengan bantuan Mr. Google. Jadi konsumen kan harus cerdas ya, jadi
sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi sesuatu, googling untuk mencari
tahu itu harus dilakukan untuk lebih memastikan kebutuhan, keamanan dan efek
dari vitamin atau suplemen tersebut.
Selanjutnya, setelah lahir, pemberian nutrisi yang baik pun
berlanjut baik bagi saya maupun Ganesh. Semua pasti setuju bahwa ASI merupakan
makanan terbaik bayi hingga usia enam bulan, dan setelah itu sebisa mungkin
dilanjutkan sampai usia dua tahun. Dan saya pun sependapat dengan hal
itu. Untuk itu, saya selalu mengupayakan supaya dapat memberikan ASI untuk
Ganesh. Caranya, tentu saja dengan memperhatikan kesehatan dan nutrisi saya.
Makan makanan bervitamin dan juga ASI booster, seperti daun katuk saya
lakukan secara teratur untuk menjaga produksi ASI. Dan saat ini dengan adanya
susu untuk ibu menyusui seperti Lactamil Ibu Menyusui cukup membantu saya,
karena disamping mengandung berbagai macam nutrisi yang bermanfaat juga mengandung
sari daun katuk sebagai ASI booster.
Selepas sukses program ASI Eksklusif selama enam bulan,
selanjutnya saya berkomitmen untuk memberikan asupan nutrisi yang baik pada
Ganesh melalui menu MPASI-nya. Untuk mengupayakan hal ini, sebisa mungkin saya
mengontrol menu makanan Ganesh; baik dari bahan dan pengolahan, yaitu dengan
memasak sendiri. Tidak perlu memasak makanan yang rumit untuk Ganesh, yang
penting kaya nutrisi, bersih dan bebas dari bahan pengawet, pewarna serta
penguat rasa. Karena saya seorang ibu bekerja; saya menggunakan teknik kukus
bahan makanan di pagi hari, yang kemudian diracik menjadi tiga porsi sehingga
pengasuh tinggal menghaluskan saja dengan blender. Setelah mulai makan
bubur, saya mulai menggunakan slow cooker. Dan pada saat Ganesh mulai
makan lebih padat lagi saya hanya memasak di pagi hari dan mengajarkan pengasuh
saya untuk memasak menu Ganesh siang dan sore hari.
MPASI Ganesh
Sayuran, buah, biji-bijian
yang diolah dengan teknik mengukus atau slow cooker
dan dihaluskan menggunakan blender
|
Perkembangan. Disamping pertumbuhan fisik yang optimal, aspek psikis,
yaitu perkembangan juga menjadi perhatian saya sebagai seorang ibu. Sekali
lagi, setiap anak diciptakan dengan unik dengan berbagai potensi mereka
masing-masing. Pada dasarnya, saya berpendapat bahwa sebagai orang-tua, kita
berkewajiban untuk memberikan ruang perkembangan yang leluasa untuk anak. Cara
pertama yang ditempuh adalah dengan memperlakukan anak dengan cara yang aman
dan nyaman. Maksudnya adalah memperlakukan anak dengan lembut, hangat, penuh
empati dan perhatian; sehingga sang anak merasa aman untuk mengekspresikan
dirinya. Ya, sebagai seorang anak yang tergolong sensitif, saya ingat betul
bagaimana saya begitu peka dengan bagaimana orang-tua memperlakukan. Bagaimana
sebuah pujian tanpa tuntutan bisa membuat saya begitu bersemangat dan sikap
acuh yang dingin bisa membuat saya merasa gagal. Hmm, meskipun
kenyataannya tidak semua anak punya kepribadian seperti saya, tapi perlakuan
yang lembut, hangat, penuh empati dan perhatian akan menciptakan efek positif
bagi mereka. Hal inilah yang sebisa mungkin saya berikan pada Ganesh, agar dia
tumbuh menjadi anak yang percaya diri dengan segala potensinya.
Lebih lanjut, pemahaman sedini mungkin akan kepribadian anak
juga akan membantu kita mengoptimalkan potensinya. Untuk lebih mudahnya, saya
menggunakan salah satu Teori Kepribadian Color Code dari Dr. Taylor Hartman2.
Teori ini membagi kepribadian menjadi empat kategori; yaitu merah, biru, putih
dan kuning; dimana masing-masing kepribadian memiliki karakteristik tersendiri
berdasarkan motif perilakunya. Merah motif kekuasaan, biru motif keintiman, putih
motif kedamaian dan kuning kesenangan. Setiap karakteristik kepribadian ini
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga tidak bisa
diperlakukan dengan cara yang sama untuk mencapai hasil yang optimal.
Karakteristik Anak Berdasarkan Teori The Color Code
Pemahaman tentangnya akan mempermudah kita memperlakukan anak
dengan tepat
|
Berdasarkan pemahaman akan karakteristik anak tersebut, kita
akan bisa memperkirakan reaksi anak dengan perlakuan kita. Misalnya seorang
anak dengan karakteristik merah, sah saja sedikit ‘dihina’ untuk memancing
semangatnya. Sementara untuk anak dengan karakteristik biru, hal ini harus
dihindari karena akan membuatnya semakin down dan sebaliknya kita harus
lebih banyak berempati dan mengurangi tuntutan agar si biru bisa tampil
optimal.
Menurut pengamatan saya sebagai seorang ibu, Ganesh termasuk
anak dengan karakter merah dengan segala kekerasan kepala, keskeptisan dan
pemberontakannya. Hmm, menghadapi hal ini, saya berusaha mengarahkannya
dengan memberikan penjelasan-penjelasan logis sederhana yang dapat dipahaminya.
Selama tindakannya tidak berbahaya, saya juga cenderung sekedar mengamati
karena memang Ganesh selalu ingin melakukan semuanya ‘cendilian!’ daripada
dibantu. Selain itu, saya juga berusaha membangun reputasi di mata Ganesh
dengan bersikap lembut dan memberikan informasi yang benar agar dia mau lebih
mendengarkan nasehat-nasehat saya.
Nah, disamping memperhatikan kepribadian anak; sedini mungkin
kita juga berusaha menggali talenta dan minatnya untuk dapat mengembangkannya
sejak dini. Talenta dan minat bisa dilihat dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya
pada Ganesh yang menurut saya cukup berkembang di bidang verbal yang terlihat
sejak usia 13 bulan, dimana dia sudah mampu mengucapkan berbagai kata. ‘Ceriwis’,
itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya :D. Untuk itu kami selalu
berusaha menjadi partner ngobrol-nya setiap waktu, karena Ganesh
memang memiliki keinginan yang tinggi untuk berbicara. Selain itu, Ganesh juga
sangat menikmati pengamatan di alam; terlihat dari kesukaannya jalan-jalan
sembari mengamati berbagai tumbuhan dan hewan. Hmm, saya sempat berpikir
mungkin dia nantinya akan menyukai bidang biologi. Yah, talenta dan
minat ini memang baru suatu tanda akan talenta dan minat lain yang mungkin
lebih spesifik nantinya dan saat ini kami sekedar berusaha memfasilitasinya
supaya bisa berkembang optimal.
Ganesh Mengamati Bekicot
Senang mengamati tumbuhan dan binatang disekitarnya
Mungkin dia seorang ahli biologi masa depan :D
|
PENANAMAN NILAI-NILAI KEBAIKAN
Ingat penggalan syair sebuah lagu qasidah tahun 80-an yang
dilantunkan oleh Hj. Nur Asiah Jamil sebagai berikut: “Belajar di waktu
kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa laksana mengukir di
atas air.” Penggalan syair lagu tersebut mengingatkan saya bahwa masa kecil
merupakan waktu yang paling krusial untuk pembelajaran anak, terutama berkaitan
dengan nilai-nilai kebaikan. Mendidik seorang anak memang sulit, bagaikan
mengukir di atas batu, harus telaten dan tekun, namun setelah nilai tersebut
tertanam, maka dia akan menetap dalam diri anak sepanjang hidupnya. Berbeda
dengan menasehati orang dewasa, mungkin mudah saja orang tersebut akan merubah
perilakunya, namun mudah saja perilakunya kembali berubah seperti semula,
bagaikan mengukir di atas air. Karena itulah, saya selalu berupaya menanamkan
nilai-nilai kebaikan pada Ganesh sedini mungkin melalui interaksi sehari-hari
dan juga dengan berusaha menjadi role model yang baik untuknya.
Pendidikan
Moral. Moral yang baik, menurut saya
adalah karakteristik pemimpin yang paling penting. Kenapa demikian? Kita tentu
melihat betapa banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini; mulai
dari masalah sampah, pendidikan, ekonomi dan kawan-kawan, yang nota bene
semuanya itu membutuhkan kepedulian atau moral yang baik untuk
menyelesaikannya. Keahlian saja tidak akan mampu menyelesaikan permasalahan
tersebut, tanpa adanya tujuan yang baik yang berawal dari moralitas kita.
Menurut saya, sebuah keahlian tanpa moralitas akhirnya hanya akan berakhir pada
penyelesaian masalah sebagai sebuah komoditas bukan dedikasi. Pemimpin seperti
itu, tentu tidak akan mampu secara optimal menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi negeri ini.
Nah, lalu bagaimana mengajarkan moralitas pada anak? Jawabannya
adalah melalui interaksi sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari tentu banyak
situasi yang bisa kita manfaatkan untuk membantu mendidik moral anak, misalnya:
- Kepedulian pada lingkungan dengan mengajak anak untuk membuang tissue bekasnya di tempat sampah.
- Welas asih dengan memintanya berbagi makanan atau mainan dengan temannya. Misalnya seperti ini, “Ganesh, temennya dipinjemin mainannya ya… Kasihan kan, dia ga punya mainan kaya Ganesh.”
- Tepa selira, misalnya pada saat dia menjambak saya maka saya katakan, “Ganesh, dijambak itu sakit lho. Ganesh ga mau kan dijambak juga? Kalo gitu jangan jambakin orang ya…”
- Menghargai orang lain, misalnya pada saat dia bermain dengan baju yang sudah dilipat oleh ART, saya mengatakan, “Ganesh, kasihan Wawak lho… Kan capek nyetrikanya… Masa sama Ganesh diberantakin gini.”
Selanjutnya, disamping nilai-nilai di atas, akan ada banyak
lagi nilai moral yang bisa diajarkan seiring bertambahnya kedewasaan Ganesh. Tugas
kita sebagai ibu, adalah untuk bisa peka dengan situasi yang ada di lingkungan
untuk bisa memanfaatkannya. Serta juga, kreatif untuk menciptakan situasi yang membantu
proses belajar, misalnya melalui permainan. Misalnya permainan mobil mengantri
di SPBU untuk mengajarkan anak budaya mengantri.
Kebiasaan
Baik. Kebiasaan baik sesungguhnya dekat dengan moral yang baik,
hanya saja kebiasaan baik mungkin lebih dangkal karena tidak berkaitan dengan hati
nurani (baik/jahat). Kebiasaan baik menurut saya disini misalnya adalah
kebiasaan makan makanan sehat, menjaga kebersihan tubuh, menjaga kerapian dan
sebagainya. Kebiasaan-kebiasaan baik ini akan menjaga anak untuk hidup sehat
dan penampilannya. Misalnya saja jika anak terbiasa untuk makan makanan yang
rendah gula dan garam dan terbentuk preferensi citarasa demikian, maka menurunkan resikonya akan penyakit hipertensi dan
diabetes di masa depan.
Menu Ganesh
Hasil olahan sendiri
untuk memastikan kebersihan dan nutrisinya
|
Nah, untuk membiasakan Ganesh dengan hal-hal tersebut caranya
tidak lain dengan mengajak anak melakukannya secara rutin dari hari ke hari,
misalnya yang saya terapkan pada Ganesh:
- Makan makanan sehat, dengan membiasakan Ganesh pada makanan rumahan, dengan kadar gula dan garam yang rendah dan tanpa MSG. Menjaga Ganesh supaya tidak jajan di luar yang tidak terjamin kebersihan dan keamanannya, serta seringkali terlalu manis atau gurih.
- Menjaga kebersihan tubuh, dengan membiasakan mandi dua kali sehari, mencuci tangan setelah bermain dengan hewan peliharaan atau akan makan, dan sebagainya.
- Menjaga kerapian, misalnya dengan membiasakan Ganesh merapikan mainan setelah digunakan.
Dalam menanamkan kebiasaan baik sesungguhnya sama sekali
tidak rumit, hanya saja membutuhkan kesabaran dan konsistensi kita. Karena itulah,
peran kita sebagai seorang ibu untuk mengupayakan bahwa anak kita menjalani
hari-harinya dengan penuh pembelajaran yang menyenangkan, baik untuk menanamkan
moral maupun kebiasaan baik. Saya, sebagai seorang ibu bekerja, cukup beruntung
dengan lokasi kantor yang dekat, sehingga memungkinkan saya memantau keseharian
Ganesh pagi hari sebelum ke kantor, pada saat istirahat siang dan sepulang
kerja. Selebihnya, saya berusaha memberikan pengertian pada pengasuh tentang
cara asuh yang saya terapkan pada Ganesh, sehingga ada keselarasan antara
perlakuan saya dan pengasuh.
IT TAKES A
VILLAGE…
Jaman dulu sekali, pada saat lingkungan kita masih sebatas
kemana kaki dan kuda dapat mengantarkan kita, kendali kita pada lingkungan yang
mempengaruhi pada perkembangan anak terhitung masih besar. Berbeda dengan
sekarang, dengan adanya TV, internet, media cetak dan sebagainya; bisa dipastikan
bahwa ada semakin banyak hal yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak kita; baik secara positif dan negatif. Derasnya arus
informasi, di satu sisi akan membuat anak menjadi lebih kritis, karena dia akan
cenderung membandingkan informasi-informasi yang ada sebelum memutuskan
informasi mana yang akan diikutinya. Sedangkan di sisi lain, ini berarti ada
celah bahwa anak akan terpengaruh dengan informasi yang tidak baik. Hmm,
lalu bagaimana caranya agar anak kita mendapatkan dampak positif dari
lingkungan dan bukan sebaliknya? Berikut yang saya lakukan pada Ganesh…
Memilih
Lingkungan yang Supportif. It
takes a village, merupakan pepatah Afrika yang menggambarkan bahwa
membutuhkan sebuah komunitas untuk membesarkan anak menjadi seorang individu
yang utuh. Dengan kata lain, seorang anak akan tumbuh menjadi dewasa secara
optimal jika seluruh komunitas mengambil peran untuk membesarkan anak3.
Di rumah, bisa saja saya mengontrol buku apa yang dibacanya atau tayangan yang
dilihatnya. Namun, hal itu tentu tidak bisa saya lakukan sepenuhnya di luar
rumah. Sebagai anggota masyarakat, saya juga tidak terlalu memilih lingkungan
yang steril untuk anak saya. Tapi, meskipun demikian, saya masih sedikit banyak
menghindarkan Ganesh dari pengaruh negatif, apalagi sekarang usianya masih 2
tahun 3 bulan. Caranya, yaitu dengan mengajak Ganesh bermain ke lingkungan yang
supportif untuk perkembangannya; misalnya di sekitar saya adalah TK yang ada di
samping rumah, rumah teman sebayanya atau jalan-jalan melihat sapi dan
pepohonan. Ya, saya cukup beruntung tinggal di lingkungan yang tergolong
pedesaan.
Ganesh Senang Bermain Di Sekolah Dekat Rumah
Beruntung pihak sekolah mengijinkan Ganesh bermain disana
Walaupun tidak belajar,
lingkungan sekolah memberikan pengaruh yang baik untuknya
|
Selanjutnya, seiring bertambahnya usia Ganesh, hingga memasuki usia sekolah, maka saya pun memiliki keinginan menyekolahkan Ganesh di sekolah yang selain peduli pendidikan akademis, juga fokus terhadap perkembangan moral dan spiritual anak. Sebuah lingkungan sekolah yang sesuai dengan ritme belajar Ganesh nantinya juga, sehingga Ganesh merasa nyaman serta potensinya dapat berkembang optimal. Masa itu mungkin masih cukup lama ya, jadi untuk sekarang saya baru dalam tahap mencari dan membandingkan berbagai sistem yang ditawarkan beberapa sekolah yang ada, sembari juga mengamati perkembangan karakter Ganesh.
Membangun Kredibilitas. Faktanya, meskipun berusaha memilih lingkungan yang supportif
untuk perkembangan anak, kita tetap tidak bisa memblokir sepenuhnya informasi
yang diterima anak. Apalagi nanti jika anak kita sudah menginjak usia sekolah. Lalu
bagaimana solusinya? Menurut saya, sebagai ibu, kita harus membangun
kredibilitas di mata anak. Kita harus bisa membuat anak berpikir bahwa kita
adalah ibu yang bisa dipercayai dan bisa memberikan informasi yang dapat
diterimanya. Caranya adalah (lagi-lagi) dengan memperlakukan anak dengan penuh
empati dan pengertian, serta juga selalu meng-up-grade pengetahuan,
sehingga bisa menjadi sumber informasi yang menarik dan terpercaya bagi anak. Untuk
saat ini usaha konkret yang saya lakukan untuk Ganesh diusianya saat ini
adalah:
- Bersikap lembut, penuh empati dan pengertian agar Ganesh merasa nyaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan saya.
- Banyak membaca dan mencari informasi berkaitan dengan tumbuh kembang anak dan juga bagaimana ‘dunia luar’ saat ini.
- Mencari tahu lingkungan bermain Ganesh, sehingga pada saat bersama kami bisa bercerita tentang kegiatan Ganesh hari itu, yang saya lewatkan karena bekerja.
- Bercerita kepada Ganesh tentang cerita-cerita ringan yang membuatnya tertarik dan ingin tahu, supaya dia merasa bahwa saya adalah ibu yang banyak tahu :D
- Menjawab pertanyaan Ganesh dengan informasi yang benar dan dapat diterima oleh logikanya.
OK, begitulah kira-kira jawaban saya akan pertanyaan “Peran
Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil.” Hmm, ternyata cukup panjang juga ya… dan akan
semakin panjang dengan perkembangan Ganesh nantinya. Iya, menjadi ibu memang
sebuah peran yang penuh tanggung-jawab, karena kitalah orang terdekat bagi
seorang anak sejak dia masih ada dalam kandungan. Idealnya, kita dapat mempertahankan
kondisi ini seterusnya, agar dapat mengawal anak kita menjadi pribadi yang
dewasa dan utuh, dengan memberikan kebutuhan fisik dan psikis yang terbaik
untuk perkembangannya. Tidak berlebihan rasanya saya berpendapat bahwa ibu
memiliki peran penting dalam kemajuan suatu bangsa, karena di tangan ibulah anak-anak
dapat tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin yang hebat. Saya bangga menjadi seorang
ibu :)
*Tulisan
ini diikutsertakan dalam blog writing competition dengan tema “Peran Ibu Untuk
Si Pemimpin Kecil” yang diselenggarakan oleh Nutrisi Untuk Bangsa.
With Love,
Nian Astiningrum
Referensi:
- Tabloid-Nakita.com. (07-08-2013). Kosmetik Aman untuk Ibu Hamil. http://www.tabloid-nakita.com/read/1755/kosmetik-aman-untuk-ibu-hamil. Diakses tanggal 18 Oktober 2013.
- Hartman, T. 2007. The People Code. New York: Simon & Schuster.
- Wikipedia.com. 2013. It Takes A Village. http://en.wikipedia.org/wiki/It_takes_a_village. Diakses tanggal 20 Oktober 2013.
No comments :
Post a Comment
Hai! Terima-kasih sudah membaca..
Silakan tinggalkan komentar atau pertanyaan disini atau silakan DM IG @nianastiningrum for fastest response ya ;)